Rapuh

Entah lah, mengapa hari ini kacau. Barangkali ini teguran, atau apa. Rasanya berteriak adalah ekspresi yang terbaik saat ini. Sepi, tak ada yang menjawab. Semua benda di sekelilingku seakan meratapi ku hari ini. “kasihan gadis ini”….mungkin itu gumam mereka.

Sedangkan aku, masih menunggu angin. Yang selalu menyapaku setiap paginya, dan meninabobokan ku setiap malamnya. Tak ada yang mengerti mungkin. Namun malam ini, entahlah. Dia tak hadir di hariku. Sepertinya enggan untuk  menyapaku. Dan aku, lagi lagi seperti ini. kulihat sekeliling. Buku-buku, penggaris, tas, baju, lemari, tv, kasur, bantal dan guling, mereka semua menatapku sinis. Oh…salah kah? tak ada yang mengerti.

Rasanya air mata pun enggan untuk jatuh. Jangan sampai dirimu mati di dalam tubuhmu. Teruntuk dirimu, dimana pun kau berada.

Aku Takut Jatuh Ci(n)ta

dad 1

“Aku takut jatuh cinta” kata mu.

Aku terdiam. Angin musim dingin kembali menusuk, masuk sampai susum tulang, ngilu. Dingin dan kering. Seperti kerongkongan ku.

“Kamu mau cinta atau tidak, sama saja kan? Tidak akan ada yang berubah. Karena aku pasti memendamnya” ujarnya lagi, diringi senyum getir.

Burung berhenti berkicau, ammu-ammu tukang isy dan kuftah merapikan jualannya, satu dua anak kecil berbaju abaya melewati kami, semua bergegas ke masjid, kembali ke peraduan, karena senja mulai menyapa. Azan bersahut-sahutan dari tiap menara masjid. Pukul 17.05 saat itu.

“Apa yang membuat mu cinta?” Tanya ku.

“Aku tidak tahu, mungkin karena aku sedang jauh dari Nya. Iman ku sedang melemah, atau apa aku tak faham.” Ujar nya.

“Lalu?” kata ku lagi.

“Ya seperti biasa, ketika rasa itu muncul, aku kubur dalam-dalam, ku hancurkan kalau bisa. Supaya tidak muncul lagi”. Dia senyum melihat ku.

“Bukankah kata orang, cinta itu anugerah?” aku bertanya penasaran, tidak tahu jalan pikirannya.

“Iya, tapi bagiku saat ini, perasaan itu justru menghancurkan dan menyiksa. Membuyarkan konsentrasi, melemahkan hati, membuat fikiran terbang bebas tanpa arah. Makanya aku takut.” Katanya dengan tatapan lurus kedepan.

“sampai kapan kau akan begitu?” kata ku.

“sampai…………………………………..” Kalimatnya terpotong,

Iqomah memanggil, kita berbegas masuk masjid. Percakapan pun terhenti begitu saja.

Ya, sampai kapan?

Sampai waktu yang tepat insyaAllah.

Kairo, 9 Nov 2015

Penerapan Manhaj Wasathiyyah di Nusantara

islam

PENERAPAN MANHAJ WASATHIYYAH DI NUSANTARA

(Essay ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat seleksi Azhari Backpacker 2015)

Disusun oleh : Dea Fitria

Umat Islam dewasa ini dihadapi dengan masalah yang komprehensif. Mulai dari radikalisme, liberalisme, sosialisme, pluralisme dan sebagainya. DR. Mukhlis Hanafi, MA., dalam bukunya Moderasi Islam, menuliskan bahwa umat Islam kini, paling tidak, menghadapi dua tantangan. Pertama, kecenderungan sebagian kalangan umat Islam untuk bersikap ekstrem dan ketat dalam memahami hukum-hukum agama dan mencoba memaksakan cara tersebut di tengah masyarakat muslim, bahkan dalam beberapa hal menggunakan kekerasan. Kedua, kecenderungan lain yang juga ekstrem dengan bersikap longgar dalam beragama dan tunduk pada perilaku serta pemikiran negatif yang berasal dari budaya dan peradaban lain.

Sikap yang pertama biasanya lahir dari golongan salafi garis keras, yang masih berfikir jumud, dan menganggap globalisasi sebagai bid’ah yang menyesatkan. Ekslusif, tidak terbuka dengan hal-hal baru (jika tidak bisa dibilang generasi kurang update dan terbelakang), dan tidak mau sejalan dengan modernitas. Golongan ini rentan dengan pemikiran yang instan, tidak berfikir panjang dan mendalam sehingga menghasilkan keputusan yang premature. Alih-alih membela Islam, malah jatuh kedalam terorisme dan radikalisme.

Sementara sikap kedua, lahir dari semangat mengedepankan Islam agar sejalan dengan globalisasi tetapi lupa membatasi diri dengan rambu-rambu hukum dasar islam, sehingga melahirkan pemikiran yang bebas tak terikat—liberalisme. Buah nya, syari’ah Islam dengan sesukanya di campur tangani, sehingga menghilangkan nilai-nilai Islam itu sendiri. Yang pertama terlalu ketat bahkan menutup diri, dan yang kedua terlalu longgar dan terbuka sehingga mengaburkan esensi ajaran Islam itu sendiri.

Senada dengan opini Syaikh Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al Azhar ke-41, beliau menuliskan dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al Qur’an Al Karim:

“Islam adalah jalan yang lurus, syariat nya kekal dan sesuai setiap masa dan tempat. Keadaan manusia sebelum datangnya Islam terbagi menjadi dua golongan. Petama adalah golongan ekstrem (ifrat), dan kedua adalah golongan yang terlalu longgar (tafrit). Seperti hal nya akidah dan akhlak. Lalu setelah Islam datang, ia lah yang menggariskan manhaj pertengahan (wasathiyyah) dalam semua urusan hidup manusia”.

Al Azhar, sebagai kiblat para pelajar di seluruh dunia dalam mendalami Islam pun selalu mengedepankan manhaj wasathiyyah, manhaj pertengahan, manhaj yang adil. Kalau kita telusuri lebih dalam, makna wasathiyyah, seperti yang di jabarkan DR. Mukhlis Hanafi MA., dalam bukunya Moderasi Islam, wasath maknanya adil, baik, tengah dan seimbang. Bagian tengah dari kedua ujung dalam bahasa Arab disebut wasath. Seperti dalam ungkapan sebaik-baik urusan adalah awsathuha (yang pertengahan). Atau kita sering mendengar istilah ‘penengah’ dua orang yang sedang bertengkar. Pertengahan adalah posisi aman untuk tidak terlalu condong pada sisi ekstrem (baca:radikalisme), dan sisi longgar (baca:liberalisme). Al Qur’an pun menyebut kata wasath pada surat Al Baqoroh ayat 143:

وَكَذَا لِكَ جَعَلنَاكُم أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدآءَ عَلَى النّاَسِ

“Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia…”

Umat petengahan, telah dijelaskan dalam Al Qur’an agar kita menjadi umatan wasathan, ‘petengahan’, ‘moderat’, ‘adil’, ‘terbaik’.

Almamater kita, Universitas Al Azhar, selalu memberi teladan akan hal ini. Contoh real nya, khusus perkuliahan jurusan Syari’ah Islamiyyah, mahasiswa bebas memilih mazhab mana yang akan diambil dalam mata kuliah fiqih. Syafi’i kah, Hambali kah, Maliki kah, atau Hanafi. Bebas memilih tanpa ada paksaan dan perselisihan. Kelas berjalan sesuai mazhab nya, dan tidak ada mazhab yang diangggap paling benar atau dianggap paling banyak pengikutnya. Karena sudah mafhum, bahwa perbedaan adalah rahmat. Tak luput para Masyayikh Azhar pun mengedepankan nilai wasathiyyah dalam fatwa-fatwa nya. Tidak mudah mengkafirkan suatu golongan dan tidak mudah mengatakan halal haram dalam masalah fiqh.

Fenomena takfir bukan hal baru dalam masyarakat Islam, bahkan telah terjadi pada masa awal Islam, tepatnya setelah perang shiffin (37 H/658 M). Saat itu muncul kelompok khawarij yang dapat di anggap gerakan takfir pertama dalam sejarah Islam. Mereka menganggap kafir atau syirik seorang Muslim yang melakukan dosa besar, bahkan mereka berani mengkafirkan  Imam Ali yang enggan bertaubat karena telah melakukan tahkim (perundingan) dengan lawan politiknya, Muawiyah, yang mereka anggap sebagai dosa besar. Setelah khawarij, muncul derivatnya yang gemar mengkafirkan sesuatu tanpa dasar yang jelas. Maka manhaj wasathiyyah lah solusi agar umat Islam tidak menjadi seperti apa yang diungkapkan oleh Muhammad Abduh, “Al Islaamu mahjuubun bil Muslimiin”, Keagungan Islam telah terhijab oleh kekerdilan pemeluknya.

Berbicara tentang kondisi masyarakat Muslim nusantara kini, manhaj wasathiyyah pun perlahan sudah mulai merambah ke dalam pemikiran masayarakat nusantara. Kita mengenal istilah ‘Islam Berkemajuan’, yang di populerkan Muhammadiyah dalam muktamarnya yang ke-47 di Makasar pada 3-8 Agustus 2015. Seperti yang ditulis oleh Akhmad Sahal dalam prolog buku Islam Nusantara, istilah yang ditawarkan Muhammadiyah menggemakan kembali diktum yang pernah dinyatakan Bung Karno bahwa “Islam is progress: Islam itu kemajuan”. Atau istilah ‘Islam Nusantara’ yang dipopulerkan oleh Pimpinan Besar Nahdatul Ulama (PBNU) yang diangkat menjadi tema Muktamar ke-33 di Jombang Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015. Tema itu persisnya berbunyi “Meneguhkan Islam Nusantara sebagai Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Islam Nusantara ditafsirkan sebagai Islam yang toleran, damai, dan tidak meninggalkan budaya nusantara dalam praktiknya. KH. Afifuddin Muhajir dalam tulisannya menegaskan bahwa manhaj Islam Nusantara (baca:wasathiyyah) yang dibangun dan diterapkan oleh Wali Songo serta diikuti oleh ulama Ahlussunnah di negara ini adalah “paham dan praktik keislaman di bumi nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realistis dan budaya setempat”. Islam Nusantara ini bukan hal baru. Hanya konten lama dengan bahasa berbeda. Sebelumnya pada dekade 80-an Abdurrahman Wahid tampil dengan idenya ‘Pribumisasi Islam’. Disini Gusdur dengan tegas menyatakan bahwa pribumisasi Islam “tidaklah mengubah Islam, melainkan hanya mengubah manifestasi dari kehidupan agama Islam”.

Abdul Moqsith Ghazali misalnya, menyatakan, gagasan Islam Nusantara tidak bergerak dalam penciptaan hukum, melainkan dalam penerapannya, (tathbiq wa tanzil al hukm). Dan Ijtihad dalam penerapan sebuah hukum  dalam pandangan Moqsith, ditakar dari seberapa jauh hukum tersebut menciptakan maslahat dan menghindari mafsadat dalam masyarakat. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa lima prinsip pokok agama, atau Imam Saythibi menyebutnya sebagai “Ittifaq al Milal”, yaitu (1). Hifdz al-Din(perlindungan terhadap agama), (2). Hifdz al-Nafs (perlindungan terhadap hak hidup), (3). Hifdz al-‘Aql (perlindungan terhadap hak berfikir), (4). Hifdz al-Nasl(perlindungan terhadap hak-hak reproduksi), (5). Hifdz al-Mal (perlindungan terhadap hak-hak milik). Kelima hal tersebut merupakan manifestasi dari konsensus agama-agama tidak hanya Islam. Karena itu, lima prinsip tersebut bersifat universal.

Islam Nusantara juga hadir agar penerapan hukum Islam dipertimbangkan sesuai ‘urf, tradisi dan budaya setempat. Dalam kaidah fiqih, “taghayyur al-fatwa wa ikhtilafuha bi hasbi taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwal wa al-niyyah wa al-‘awa’id” (perubahan fatwa dan perbedaanya mengikuti perubahan situasi, niat dan tradisi).

Dasar dari Islam Nusantara ini seperti yang di tulis Akhmad Sahal dalam prolog buku Islam Nusantara adalah kesepakatan para ulama Ushul Fiqh bahwa Islam diturunkan oleh Allah semata-mata bertujuan untuk mendatangkan kemaslahatan dan meninggalkan kemudharatan bagi hamba Nya, juga berdiri teguh di atas sebuah postulat yang di rumuskan oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah:

إن الشريعة مبناها و أساسها على الحكم و مصالح العباد فى المعاش و المعاد, و هي عدل كلها و حكمة كلها و مصلحة كلها. فكل مسألة خرجت عن العدل إلى الجور, و عن الرحمة إلى ضدها, و عن المصلحة إلى المفسدة, و عن الحكمة إلى العبث, فليست من الشريعة و إن أدخلت فيها بالتأويل

“Sesungguhnya syariah itu bangunan dan fondasinya didasarkan pada kebijaksanaan (hikmah) dan kemaslahat para hamba-Nya di dunia dan akhirat. Syariat secara keseluruhannya adalah keadilan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan. Maka dari itu, segala perkara yang mengabaikan/meninggalkan keadilan demi tirani, rahmat kasih sayang demi kebalikannya, kemaslahatan demi kemafsadatan, kebijaksanaan demi kebodohan, maka itu semua bukan lah syariah, meski semua itu dimasukkan kedalamnya melalui suatu interpretasi”.

Landasan berikutnya yang mendasari konsepsi Islam Nusantara adalah fakta bahwa wilayah garapan Islam Nusantara sejatinya termasuk dalam domain al-mutaghayyarat (hal-hal yang bisa berubah dalam ajaran Islam). Ini untuk membedakan dengan al- tsawabit (hal-hal yang tetap, tidak  berubah-ubah dalam ajaran Islam). Seperti dipaparkan oleh KH. Husen Muhammad, ada hal-hal dari ajaran Islam yang berlaku baku (tetap, tidak berubah-ubah) dan ada hal yang bisa berubah-ubah. Yang masuk dalam kategori pertama adalah wilayah akidah dan ubudiyah (ritual). Prinsip tauhid, iman kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, dan percaya pada hari pembalasan merupakan hal-hal baku yang tidak berubah sepanjang masa. Juga rukun Islam seperti solat, puasa, zakat dan haji. Ketentuan ini tsabit dimanapun dan kapan pun.

Sementara hukum-hukum yang bisa berubah (al-Mutaghayyirat ) terletak dalam wilayah relasi manusia dengan manusia, yang lazim disebut muamalat. Bidang ini meliputi aturna-aturan mengenai hubungan manusia salam keluarga, sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Dari prespktif ushul fiqh, kedua jargon ini (baca: Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan), merupkan dua sisi dari satu mata uang yang sama, yakni kontekstualisme Islam. Baik Islam Nusantara maupun Islam Berkemajuan sama-sama mempertimbangkan perubahan situasi dan kondisi masyarakat, dengan menjadikan kemaslahatan sebagai tolak ukurnya. Yang pertama menekankan pembaruan pemahaman Islam karena perubahan konteks geografis (dari Arab ke Nusantara), sedangkan yang kedua menyerukan pembaruan Islam karena perubahan zaman menuntut pembaruan/tajdid. Titik temu konstektualisasi Islam versi Muahmmadiyah dan NU setidaknya tercermin dalam pemikiran Prof. Amin Abdullah (baca:Muhammadiyah) dan KH. Sahal Mahfudz (baca: NU) tentang hukum Islam. Bagi Amin Abdullah, transformasi besar-besaran dalam tatanan sosial, politik, ekonomi, budaya dan ilmu pengetahuan yang secara dramatis mencerminkan perubahan radikal dari zaman klasik ke era modern menuntut digalakkannya ijtihad kontemporer, bahkan ijtihad yang segar. Dalam pandangan Amin, Fikih Sosial dan Kalam Sosial perlu berintegrasi dan berinterkoneksi dengan sains dan harus memiliki world view yang terbuka. Jika tidak ingin kembali ke era pertengahan, maka hasil ijtihad harus selalu terbuka untuk menerima ha-hal baru yang lebih baik dalam kehidupan manusia di dunia ini. Inilah yang disebut Amin Abdullah sebagai Fikih Sosial dan Kalam Sosial di alam postmodern.

Konsepsi Amin Abdullah tentang Fikih Sosial dan Kalam Sosial menunjukan adanya kemiripan ide “fikih sosial” KH. Sahal Mahfudz. Bagi Kiai Sahal, asumsi dasarnya, syariat mesti dilihat sebagai fikih, yang berarti “pemahaman”. Fikih harus mampu menampilkan dinamisme dan fleksibilitasnya berhadapan dengan perubahan sosial yang melaju kencang. Bagi Kiai Sahal, fikih selalu merupakan hasil ijtihad yang tak bersifat kaku dan sakral, melainkan lentur dan kontekstual. Putusan fikih yang pada suatu zaman dan tempat tertentu dianggap valid bisa saja tak relevan lagi di era lain atau tempat lain. Untuk menggambarkan kelenturan fikih ini, Kiai Sahal mengutip seloroh KH. Wahab Hasbullah: pekih kuwi yen rupek yo diokoh-okoh (fikih itu kalau terasa menyempitkan ya dibuat longgar).

Dewasa ini, penerapan manhaj wasathiyyah di nusantara sudah mulai terbentuk meski belum bisa dibilang menyeluruh. Contoh real nya tentang paham kebangsaan. Misalnya, NU menerima sistem demokrasi. Karena menurut Kiai Sahal, muara fikih adalah terciptanya keadilan sosial di masyarakat. Dasarnya diantaranya adalah penyataan Ali bin Abi Thalib: “Kekuasaan, negara, bisa berdiri tegak dengan keadilan meskipun ma’a al-kufri (di tangan orang kafir) dan negara itu akan hancur dengan kezaliman meskipun ma’a al-muslimin (di tangan orang Muslim)” dan Ibnu Taimiyah, “Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun (negara) kafir, dan Allah akan menghancurkan negara yang zalim meskipun (negara) muslim.” Dalam Konteks modern, keadilan sosial dimaknai dalam kerangka demokrasi, yang bertaut erat dengan prinsip kesetaraan warga negara, apapun agamanya. Kesetaraan inilah yang menurut Kiai Sahal merupakan muara fikih politik untuk zaman ini.

Sisi lain, penerimaan Muhammadiyah terhadap Negara Pancasila juga merefleksikan suatu bentuk penerapan syariat yang lentur. Setidaknya ini ditunjukan oleh Din Syamsuddin yang melihat Negara Pancasila sebagai Negara Perjanjian (Dar al-‘Ahdi) dan juga Negara Kesaksian/Pembuktian (Dar al-Syahadah). Dalam pandangan Ketua Umum Muhammdiyah ini, Negara Pancasila ditegakkan dan dibangun atas dasar perjanjian atau kesepakatan di antara segenap rakyat warga negara yang mengikat segenap warga negara, termasuk kalangan muslim, dari generasi ke generasi dalam gerak melintasi zaman. Sementara itu, gologan Ikhwani pun menerima sitem demokrasi sebagai sitem yang sah. Terbukti dengan berevolusinya golongan Ikhwani menjadi partai, dengan menggaungkan prinsip ‘dakwah akan lebih efektif ketika berada ditampuk kekuasaan’.

Dalam kasus lain misalnya, pembagian warisan. Seperti yang dipaparkan KH. Abdurrahman Wahid, dalam Ilmu Ushul Fiqh dikenal kaidah al-‘adah muhakkamah (adat istiadat bisa menjadi hukum). Di Indonesia telah lama terjadi bahwa pembagian waris antara suami istri mendapatkan masukan berupa dua model yang berasal sari adat, yaitu adat perpantangan di Banjarmasin, dan gono gini di Yogya-Solo yang pada perkembangannya juga menyebar di Jawa Timur. Keduanya adalah respon masyarakat adat yang berada di luar lingkup pengaruh kiai terhadap ketentuan nas dengan pemahaman lama yang merupakan pegangan para kiai itu. Harta rumah tangga dianggap sebagai perolehan suami istri secara bersam-sama, yang karenanya mesti dipisahkan dulu sebelum diwariskan, ketika salah satu suami/istri meninggal. Separuh dari harta itulah yang dibagikan kepada ahli waris. Separuh dari harta itulah yang di bagi keapda para ahli warismenurut hukum waris Islam, sedangkan separuh lainnya adalah milik suami/istri yang masih hidup. Teknik demikian adalah perubahan mendasar terhadap hukum waris. Dan bentuk seperti ini direstui oleh para ukama walaupun (seraya) tidak menganggapnya sebagai pemecahan utama. Sebab pemecahan utama justru adalah yang seperti ditentukan oleh syara’ secara apa adanya. Letak kemajuannya dalah bahwa penyesuaian-penyesuaian seperti ini bukan hanya tidak diharamkan tetapi bahkan dianggap sebagai adnal qoulaini (pendapat dengan mutu nomor dua) dan tidak di persoalkan sebagai sesuatu yang mengganggu prinsip.

Contoh lain dalam permasalahan KB, lanjut Gus Dur. Pertanyaan mendasar pun muncul tentang pemilik hak menciptakan anak, Tuhan kah atau manusia. Jawaban yang diberikan adalah bahwa hak menciptakan anak dan meniupkan roh dalam rahim adalah milik Tuhan. Karena itu, bentuk intervensi terhadap hak ini, yaitu dalam bentuk menghilangkan kemampuan ibu untuk melahirkan, berarti melanggar wewenang. Dengan demikian, mafhum mukholafahnya (implikasi kebalikannya) adalah diperbolehkannya pembatasan kelahiran dengan cara sterilisasi yang tidak permanen. Dengan demikian pula, melaksanakan vasektomi yang oleh dokter dijamin akan bisa dipulihkan kembali, hukumnya diperbolehkan. Misalnya dengan pemakaian Cincin Jung yang bisa di lepas kembali, atau meminum pil KB.

Kita tahu bersama tentang sebuah hadits nabi yang memerintahkan ummat nya untuk memperbanyak keturunan, karena di hari kiamat beliau akan membanggakan mereka di hadapan nabi-nabi yang lain. Pada mulanya kata ‘banyak’ dipahami sebagai jumlah, lanjut  Gus Dur, karena itu memang zaman penuh kesulitan dalam memelihara anak. Dengan tingginya angka kematian anak, maka ada kekhawatiran bahwa jumlah umat Islam akan dikalahkan yang lain. Tetapi pada saat ini, alasan demikian tidak bisa di pertahankan lagi, ketika penonjolan kuantitas sudah tidak dibutuhkam. Jumlah anak yang terlalu banyak justru akan menimbulkan bahaya, ketika kemampuan masyarakat untuk menampung mereka ternyata tidak memadai. Maka terjadilah peruabhan, ukuran itu diberatkan pada kualitas.

Konsekuensi lebih jauh mengenai perubahan pemahaman ini dapat menyangkut soal usia perkawianan. Ketika zaman Rasululloh SAW dahulu, anak  perempuan berumur sembilan tahun dinikahkan, sedangkan anak laki-laki dinikahkan ketika usia balig. Kini, hal itu tidak bisa lagi diterapkan di Indonesia. Pemerintah membatasi standar usia untuk menikah, bagi lelaki minimal usia 18 tahun, dan perempuan minimal di usia 16 tahun. Tentu perubahan ini didasari dengan kondisi masa kini, dimana hidup semakin kompleks. Pekerjaan tidak lagi sekedar menjadi petani di sawah atau nelayan di laut. Wanita pun tak sekedar di dapur, kasur dan sumur. Karena semakin kompleks nya zaman ini, maka diperlukan intelektualitas yang tinggi dari seorang pemuda. Maka dari itu usia perkawinan di batasi agar para pemuda bisa lebih matang dan siap menghadapi lika-liku rumah tangga.

Itulah sekilas pemaparan contoh-contoh penerapan manhaj wasathiyyah di nusantara. Meski demikian, gagasan Islam Nusantara ini tentu menuai pro dan kontra. Ada yang kontra berpendapat bahwa ini nama lain dari Jaringan Islam Liberal, atau dari zionis israel, karena dari beberapa aksi nya yang boming di media sosial akhir-akhir ini: mengaji dengan langgam jawa dan lain-lain. Namun tidak sedikit juga yang pro dan menyambut dengan positif gagasan ini. Bagi saya, segala sesuatu pasti memiliki sisi positif dan negatif. Yang mencetuskan ide Islam Nusantara ini pun toh bukan orang yang tidak berilmu, melainkan para alim ulama kita. Yang baik kita ambil dan yang buruk kita tinggalkan. Karena menurut saya, zaman dahulu pun Islam bisa menyebar di Indonesia melalui ajaran ‘Islam’ yang di ‘nusantara’ kan oleh para Wali Songo. Seperti metode Sunan Kudus yang mendekati masyarakatnya melalui simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha merupakan wujud kompromi yang di lakukan Sunan Kudus. Atau sunan lain yang menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah, mengganti puji-pujian kepada dewa dengan berzikir yang kini berbuah tahlilan dan lain sebagainya.

Sekali lagi, Islam Nusantara, menurut saya hanya sebuah istilah yang intinya tidak lain adalah manhaj wasathiyyah. Manhaj pertengahan, manhaj adil dan damai. Terlepas dari sisi negatif pendapat orang tentang Islam Nusantara, bagi saya, Islam Nusantara adalah metode yang cocok untuk di jalankan di Indonesia. Asalkan tetap mengedepankan Qur’an dan Sunnah, tidak ghuluw dalam menfatwakan hukum syariah, bersifat toleransi dan mengedepankan persatuan dan kesatuan ummat. Wallahu a’lam.

Daftar Referensi:

Kumpulan penulis. 2015.Islam Nusantara dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaaan.Bandung: Penerbit Mizan

Hanafi, Muchlis. 2013. Moderasi Islam. Tanggerang. Penerbit: Pusat Studi Al Qur’an (PSQ)

A.Fillah, Salim. 2011. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta. Penerbit: Pro-U Media

Cerita Kita

cinta-sehat-tanpa-maksiat

Cerita kita di mulai tanpa tahu kapan tepatnya di mulai, dan tak tahu pasti kapan akan kita akhiri. Cerita kita, menemani pergantian waktu yang tanpa ampun melesat cepat, hingga tak sadar bahwa kitalah aktor yang sedang menjalani sebuah laga bernama kehidupan.

Cerita kita, mengenaskan kata mereka. Tanpa tahu kapan bermula dan berkahir, tanpa tahu satu sama lain. Mengenaskan, karena aku tidak betul-betul tahu siapa kau sebenarnya. Mungkin saja aku mengenalmu, dan kau tidak mengenalku, atau sebaliknya. Mungkin saja kita tidak saling mengenal, atau sebaliknya, kita dalah teman akrab.

Cerita kita hanya akan dihikayatkan pada malam sepertiga dalam sujud panjang. Hanya akan diadukan dalam doa-doa penuh harap setiap selepas solat. Sebab itu, hanya Allah dan malaikat yang menyaksikan cerita ini. Indah bukan?

Cerita kita mungkin tersusun dari hari-hari yang melelahkan, menguras energi, waktu dan fikiran untuk mengejar cita-cita, untuk lulus. Cerita kita mungkin tersusun dari perkumpulan-perkumpulan rapat organisasi yang tiada hentinya. Cerita kita mungkin tersusun dari majlis ilmu, tahfidz, ruwaq-ruwaq dan tempat talaqqi. Cerita kita mungkin tersusun dari hobi yang sama-sama kita geluti, tersusun dari jurusan dan universitas yang sama-sama sedang di jalani.  Atau cerita kita mungkin tersusun dari  dakwah. Tidak ada yang tahu.

Penghuni langit sana pasti tersenyum-senyum melihat keluguan kita berdua. Karena kita tidak benar-benar tahu bagaimana akan berakhir dan di pertemukan, sampai cerita kita ini menjadi sempurna.

Cerita kita, sudah ku bilang kan? Tak ada yang tahu ujung nya. Jadi, jangan salahkan aku jika sesekali rindu menyergap. Entah rindu pada siapa.

Cairo, 12 Oktober 2015.

Wajah mu dan Langit Hurghada

DSC_0414

                                                                       Hurghada -Hudz doc

Hurgadha cerah kala itu. Sorak sorai hati riang gembira. Tak ada satu pun yang sedih, atau pusing memikirkan masalah-masalah hidupnya. Semua senang, semua bahagia. Rihlah yang mengasyikan karena kami pergi ke tempat yang sangat indah, dan bersama orang-orang yang kita cintai: Islah Egypt.

Langitnya biru mempesona, lautnya bak warna crayon, sangat eksotis dan memikat. Ya, ini lah masa lalu ku, inilah hidupku dulu, bau laut itu, aromanya memutar memori ku ke tahun 2001 dahulu.

Bapak ku. Dahulu, Ia seorang pekerja tambak udang di kawasan PT. Wahyuni Mandira, Ogan Komeling Ilir, Sumatera Selatan. Dan aku menghabiskan masa kecil ku disana. Tambak udang, air kanal, bau laut, udang, ikan, kerang, sangat akrab sekali dalam kehidupan ku dahulu. Bapak yang seorang sarjana perikanan IPB harus bekerja disana, jauh dari kampung halaman, demi menghidupi keluarga ku. Hidup seperti terasing karena dikelilingi kanal dan laut. Tak ada mobil, pun sepeda motor. yang ada hanya sepeda, dan kendaraan laut: speed boat. Seperti desa kecil di suatu kabupaten. Walaupun sayangnya aku tak punya foto digital latar suasana di sumatera sana, tetapi setiap jengkal nya terekam kuat dalam memoriku hingga kini.

DSC_0311

                                                             Hurghada -Hudz doc

Langit Hurghada kemarin, seolah terselip wajah mu di sana, pak. Laut adalah hidup mu dan masa kecil ku. Itulah sebab mengapa aku menyukai pantai, mengagumi laut, menyukai seafood, dan mencintai aroma laut yang khas. Karena aroma itu, seolah pengingat bahwa dulu, aku hidup dari keringat bapak yang menghabiskan waktunya mengabdi di pertambakan udang. Laut mengingatkan ku, bahwa aku tumbuh dan besar dari makan-makan laut. Ah, Hurghada!

Kau tahu? Aku sangat menyanyangi bapak ku meski jarang sekali bertemu dengan nya. Karena tuntuan kerja, bapak sering pergi jauh berbulan bulan…Sejak kecil sudah terbiasa ditinggal. Hingga kini, aku disini, lebih jauh lagi meninggalkan ‘rumah’.

Bersyukurlah kalian yang masih melihat ayah atau abi di meja makan saat kalian pulang ke rumah. Bersyukurlah kalian ketika ada ayah yang mengkhawatirkan dan memarahi kalian ketika pulang terlambat. Bersyukurlah yang masih bisa menghabiskan akhir pekan bersama ayah. Bersyukurlah yang masih bisa berdiskusi samalam larut membahas diktat kuliah bersama ayah. Bersyukurlah yang masih disuruh ayah untuk memijiti punggungnya sepulang kerja, atau membuatkan kopi sebelum kerja. Bersyukkurlah bersyukurlah!. Karena aku tidak seperti kalian. Aku dan bapak terpisah jarak yang menyebalkan ini.

Bapak, keringat mu itu lah bahan bakar semangat ku. Aku harus sukses. Minimal bisa membuat mu tersenyum, karena aku tidak nakal. Hmm..gadis cilik mu kini sudah tumbuh dewasa. Meski aku sudah terbiasa terpisah dari bapak, tapi tetap saja, aku rindu dekat dengan mu, bercerita hal-hal dari yang sederhana sampai yang rumit. Menayakan banyak hal, tentang kehidupan diluar sana yang belum aku mengerti. Semoga kesempatan itu masih ada.

Lihat ini pak! rasanya ingin menikmati senja disini bersama mu dan mama juga adek-adek 😀

DSC_0113

                                                       Senja Hurghada – Hudz doc

Dan doaku: semoga kelak suatu saat, ketika ada lelaki yang berniat baik, aku menemukan jiwa bapak dalam dirinya.

dad 1

dad 7

dad 8

dad 10

Ketika rindu, jarak tetap tercipta. Bagaimana ya cara melipat jarak ribuan mil ini? :’)

I love you, Dad.

Bahebbak awy ya Baba.

Cairo, 23 Agustus 2015

Untuk Mu Kawan, yang sedang di Rundung Cinta

moslem couple

Untuk mu kawan yang sedang di rundung cinta..

Ukhti..Aku melihat mu dari sudut yang berbeda. Aku tahu kau perempuan yang sangat kuat, tegas dan disiplin pada diri. Aku mengenal mu sangat,tetapi seperti aku dan hal nya perempuan yang lain, kau pun adalah yang mudah tenggelam dalam perasaan.

Aku tahu, dia telah berjanji bahwa suatu saat akan mengikatmu di depan penghulu, tapi mengapa harus diawali dengan pacaran? Iya, bukan pacaran kata mu, tapi chat tidak pernah absen, bahkan jalan berdua tidak terlalu jarang. Lalu apa namanya itu?

Kau tahu? apa yang ada di fikiran seorang pria ketika sedang jatuh cinta? Apa yang ada di fikiran pria ketika jalan berdua dengan wanita? sedang antara berdua belum halal? sungguh, aku bukan ingin menghakimi. Ketahuilah, posisi wanita yang akan sangat di rugikan jika sewaktu-waktu janji itu diingkari.

Ukhti..Aku menulis ini karena aku sangat menyayangi mu..aku menulis ini, agar kamu lebih berhati-hati dengan janji-janji kaum adam itu. Wanita itu butuh kepastian, bukan janji kan? 🙂

Dan aku menulis ini, juga untuk menasihati diri ku sendiri.

Untuk mu para ikhwan, janganlah dengan mudahnya mengumbar pesona dan janji-janji, sehingga kau merusak benteng pertahanan para akhwat itu. Benteng yang mungkin dibangun semenjak kanak-kanak, benteng yang selalu di jaga oleh ayah-ayah mereka. Kalau kau memang menyebutnya cinta, datangilah orang tua nya segera,..lamar lah ia..

Untuk mu para ikhwan, janganlah lagi dekati teman-teman wanita ku jika untuk main-main saja! wallahy hati ini sakit melihatnya..sakit..

Percayalah, ada saatnya untuk itu semua. Mintalah pada Nya untuk diberi jodoh yang baik agamanya, jodoh yang sangat cinta Rabb nya, jodoh yang bisa menggengam erat tangan kita menuju jannah Nya.

aku yakin kau faham, kalian semua faham hanya saja mungkin kau sudah tenggelam dalam arus cinta yang belum halal. Aku hanya mencoba mengulurkan tangan, untuk kita bangkit kembali berjalan di jalan pelangi, jalan menuju surga Nya 🙂

Mari saling mengingatkan di bulan dilipatkan pahala ini.. :’)

…..يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك

Ya Allah Yang Maha Pembolak Balik Hati, Teguhkanlah hati-hati kami pada agama Mu..Aamiin

Cairo, 3 Juli 2015

Apa Kabar Ummat Ini?

ummah

Apa kabar ummat ini?

Siang itu, aku terpaku di depan layar ponsel.

Apa lagi ini? berita apa lagi ini?

Penyembelihan 21 orang mesir kristen koptik oleh ISIS Libya. Apalagi ini ya Rabb?

Tak terasa mata ini panas; berkaca-kaca. Ditambah lagi ketika menelusuri berita itu lebih lanjut, dalih pembunuhan adalah balas dendam atas terbenuhunya seorang Muslim di sebuah gereja.

Sebengis itukah Islam? Apa ini konspirasi yahudi(lagi)?

Apa iya, ISIS itu memang benar Islam?

Tentu kita masih ingat betul berita yang ramai kemarin sore: Pembunuhan 3 pelajar Muslim Amerika oleh seorang atheis di Chapel Hill. Kita tak mungkin lupa, sebab berita ini menjadi trending topic di twitter kurang dari 24 jam saja dengan hastag #ChapelHillShooting : penembakan di Chape Hill. Penembakan yang tak beralasan. Hanya karena mereka bertiga adalah orang Muslim yang pintar.

Lalu berita di tanah air yang tidak kalah hangat: Penyerangan sekelompok syiah terhadap majlis azzikra milik Arifin Ilham.

Ramai, heboh, lempar sana-sini, sikut sana sini..Ya Rabb.

Seandainya Rasul masih hidup, aku ingin sekali melihat ekspresi wajahnya tentang ummat ini kini.

‘Islam ku bukan Islam mu’. Seolah Islam kita berbeda. Entahlah, semenjak aku berada disini(mesir), arus berita perpolitikan timur tengah mengalir deras. Sedikit sedikit jadi tahu, bahwa kini timur tengah sedang pecah belah, bergejolak. Demo dimana-mana. Entahlah itu demo tentang presidennya atau apa. Negeri kinanah ini, menjadi menyeramkan ketika mendengar demo. Ya Rabb..

Belum lagi jika kita menengok apa yang terjadi di tanah air. Islam terbagi dengan ormas nya, partainya, majlisnya, atau apalah. Semua kisruh, media pun isinya tak karuan. Entah yang mana yang benar yang mana yang salah. Lebih sedih lagi ketika melihat sosmed, presiden ku tidak henti-hentinya di bully. Lalu Indonesia ku kini, generasi mudanya sedang di cecoki racun Jaringan Islam Liberal, budaya barat, Islamophobia, free sex, pacaran islami dan masih banyak lagi. Oh ya Rabb, ummat Mu kini sedang kehilangan cahayanya. Bagaimana tidak? generasi muda kami sedikit yang bisa membaca Al Quran, apalagi mengahafalnya bahkan mengamalkannya. Al Quran itu telah terpisahkan selangkah demi selangkah dari kehidupan kami..generasi muda kami sedikit yang mengenal Nabi nya..Sedikit yang terus mengingat Nya..Astagfirulloh..

Malam ini, aku termemenung. Siapa aku? apa kontribusi ku untuk ummat yang sedang terkoyak ini? Ditindas dari atas, di tendang dari bawah, di sikut kanan kiri. Ummat Islam kini…’berapa harganya?’.

Apalagi kini aku sedang belajar agama di salah satu universitas yang menjunjung tinggi nilai toleransi dalam bergama: wasathiyyah. Jika bukan kami-kami ini yang mendalami agama, lalu siapa lagi? masih pantaskah acuh terhadap Alquran disaat ummat ini membutuhkan lahirnya ulama-ulama muda?

Ulama muda yang energi nya masih meletup-letup, yang siap membela Islam, dan menaikan derajatnya di mata dunia, terlebih di mata Allah. Ulama-ulama itu kini, sedang dibina, di harapkan betul hasilnya di tanah air. Lalu kita disini, pantaskah masih berleha-leha?Pantaskah kita masih sering pergi ke mall dari pada ke masjid untuk talaqqi? Pantaskah kita masih malas mengaji, malas mengkaji, malas mengahafal, apalagi malas atau lupa mengamalkan Al Quran? astagfirulloh…

Padahal mungkin kedua orang tua kita di Indonesia sana, sedang berdoa penuh ke khusyuan diatas sajadahnya, berderai air mata, mendoa kan anak-anaknya, agar selalu diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu. Padahal, kedua orang tua kita tidak pernah mengeluh dalam mencari nafkah setiap hari, bekerja banting tulang memeras keringat, hanya demi kesuksesan anaknya. Apa masih pantas kita berlaku demikian?…

Rasul ku, kami rindu engkau…Ummat mu kini, sedang kembali merapikan puzzle, mengkohkan pondasi, sehingga kami bisa bersatu untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Sekalipun sesungguhnya Allah tidak butuh tangan-tangan kami untuk memenangkan agama Ny-, karena Ia Maha Kuasa, tetapi setidaknya, tangan-tangan kami ini bisa menjadi saksi, bahwa dahulu kami pernah sedikit berkontribusi untuk agama MU. Semoga..

Cairo, 16 Februari 2015.

Apa kau juga merasakannya?

al azhar park crop

Indah dan kokoh ketika saling ‘berjauhan’.

 

 

Selamat siang, Cairo.

Ingin aku bercerita pada diam.

Baru ku sadar, bahwa rindu itu sangat menyesakan. Apa kau merasa nya juga?

Siang, Cairo.

Kau cerah merekah, merona. Selalu iri melihat pesona mu. Tapi mengapa. Mengapa pesona mu memudar karena  mereka tidak bosan-bosannya. Membela keadilan katanya. Mereka  tidak bosan-bosannya melawan kezaliman(katanya). Demo, muzoharoh, suara tembakan, teriakan, tangisan, bukan kah itu semua memuakkan?

Disampingku kini, tergeletak buku muqorror, sebuah pulpen dan stabilo kuning. Tapi entahlah aku lebih tertarik untuk bercengkrama dalam diam. Membahas semua hal tentang dirimu. Padahal imtihan sudah di depan mata.

Siang, Cairo.

Pernah suatu kali aku membayangkan, kau hadir disini. Melengkapi kekosongan. Menggenggam erat tangan ku, melangkah meninggalkan jejak dalam sunyi. Menguatkan, melengkapi, melindungi dan kita bersinergi.

Namun, sayup azan yang tadi, menyadarkan ku, bahwa aku tidak sendiri. Ada Sang Maha di atas sana, yang mendengar, melihat, dan mengawasi. yang cukup menjelaskan, bahwa semua ada waktunya.

Kata apa yang bisa terucap, ketika kita hanya bisa menunggu dalam diam?

menunggu itu menyebalkan ya,

Dan apa kau juga merasakannya?

 

Mutsallas, Cairo, 21 Nov 2014.