Wajah mu dan Langit Hurghada

DSC_0414

                                                                       Hurghada -Hudz doc

Hurgadha cerah kala itu. Sorak sorai hati riang gembira. Tak ada satu pun yang sedih, atau pusing memikirkan masalah-masalah hidupnya. Semua senang, semua bahagia. Rihlah yang mengasyikan karena kami pergi ke tempat yang sangat indah, dan bersama orang-orang yang kita cintai: Islah Egypt.

Langitnya biru mempesona, lautnya bak warna crayon, sangat eksotis dan memikat. Ya, ini lah masa lalu ku, inilah hidupku dulu, bau laut itu, aromanya memutar memori ku ke tahun 2001 dahulu.

Bapak ku. Dahulu, Ia seorang pekerja tambak udang di kawasan PT. Wahyuni Mandira, Ogan Komeling Ilir, Sumatera Selatan. Dan aku menghabiskan masa kecil ku disana. Tambak udang, air kanal, bau laut, udang, ikan, kerang, sangat akrab sekali dalam kehidupan ku dahulu. Bapak yang seorang sarjana perikanan IPB harus bekerja disana, jauh dari kampung halaman, demi menghidupi keluarga ku. Hidup seperti terasing karena dikelilingi kanal dan laut. Tak ada mobil, pun sepeda motor. yang ada hanya sepeda, dan kendaraan laut: speed boat. Seperti desa kecil di suatu kabupaten. Walaupun sayangnya aku tak punya foto digital latar suasana di sumatera sana, tetapi setiap jengkal nya terekam kuat dalam memoriku hingga kini.

DSC_0311

                                                             Hurghada -Hudz doc

Langit Hurghada kemarin, seolah terselip wajah mu di sana, pak. Laut adalah hidup mu dan masa kecil ku. Itulah sebab mengapa aku menyukai pantai, mengagumi laut, menyukai seafood, dan mencintai aroma laut yang khas. Karena aroma itu, seolah pengingat bahwa dulu, aku hidup dari keringat bapak yang menghabiskan waktunya mengabdi di pertambakan udang. Laut mengingatkan ku, bahwa aku tumbuh dan besar dari makan-makan laut. Ah, Hurghada!

Kau tahu? Aku sangat menyanyangi bapak ku meski jarang sekali bertemu dengan nya. Karena tuntuan kerja, bapak sering pergi jauh berbulan bulan…Sejak kecil sudah terbiasa ditinggal. Hingga kini, aku disini, lebih jauh lagi meninggalkan ‘rumah’.

Bersyukurlah kalian yang masih melihat ayah atau abi di meja makan saat kalian pulang ke rumah. Bersyukurlah kalian ketika ada ayah yang mengkhawatirkan dan memarahi kalian ketika pulang terlambat. Bersyukurlah yang masih bisa menghabiskan akhir pekan bersama ayah. Bersyukurlah yang masih bisa berdiskusi samalam larut membahas diktat kuliah bersama ayah. Bersyukurlah yang masih disuruh ayah untuk memijiti punggungnya sepulang kerja, atau membuatkan kopi sebelum kerja. Bersyukkurlah bersyukurlah!. Karena aku tidak seperti kalian. Aku dan bapak terpisah jarak yang menyebalkan ini.

Bapak, keringat mu itu lah bahan bakar semangat ku. Aku harus sukses. Minimal bisa membuat mu tersenyum, karena aku tidak nakal. Hmm..gadis cilik mu kini sudah tumbuh dewasa. Meski aku sudah terbiasa terpisah dari bapak, tapi tetap saja, aku rindu dekat dengan mu, bercerita hal-hal dari yang sederhana sampai yang rumit. Menayakan banyak hal, tentang kehidupan diluar sana yang belum aku mengerti. Semoga kesempatan itu masih ada.

Lihat ini pak! rasanya ingin menikmati senja disini bersama mu dan mama juga adek-adek 😀

DSC_0113

                                                       Senja Hurghada – Hudz doc

Dan doaku: semoga kelak suatu saat, ketika ada lelaki yang berniat baik, aku menemukan jiwa bapak dalam dirinya.

dad 1

dad 7

dad 8

dad 10

Ketika rindu, jarak tetap tercipta. Bagaimana ya cara melipat jarak ribuan mil ini? :’)

I love you, Dad.

Bahebbak awy ya Baba.

Cairo, 23 Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s