Akhlak Kita Adalah Cermin

cermin

Adakah yang lebih indah di bandingkan dengan  menatap wajahnya?

Namanya Syaima. Gadis Mesir yang kukenal baik sampai saat ini. Melihat wajahnya, seakan berjalan di tepi pantai berpasir putih, sejauh mata memandang tetap indah. Alisnya tebal berpilin keriting, khas orang mesir. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, matanya jeli, susunan giginya rapi, di tambah senyumnya yang merona.  Indah.

Tapi, adakah yang lebih indah dari wajahnya?

Syaima, dengan kecantikan rupa nya yang begitu membius, tidak melupakan kecantikan yang hakiki: Akhlak.

Pernah suatu ketika dia marah lantaran aku meng upload foto kami ke salah satu medsos. Sungguh malu. Karena terbiasa  upload foto, yang niat awal hanya ingin berbagi kisah. Tapi dia tidak terima. Sejurus kemudian aku hapus foto itu dari medsos.

“Dea, kenapa kamu share foto kita? Nahnu la nuhib(kita gak suka)” katanya ketika bertemu di maktabah.

“Ana makhtubah” katanya lagi. “Aku sudah di pinang”.

Aku terhenyak. Minta maaf berkali kali. Dia membalas dengan senyum, lalu bercerita. Ya, Dia ternyata sudah di khitbah oleh sepupunya sendiri. Muhammad namanya. Syaima memperlihatkan jari manisnya yang sudah berbalut cincin emas. Bukti bahwa dia sudah di khitbah.

“kapan kamu akan menikah?” tanyaku.

“Tahun depan”.

Meminang gadis mesir itu tidak semudah di Indonesia. Disini, syarat untuk menikah adalah rumah beserta isinya, dan sang pria sudah harus memiliki perkerjaan. Lalu Muhammad?

“Dia masih tingkat 3 kuliah syariah di Al Azhar juga. Dia mirip dengan ku” katanya sambil tersenyum. Katanya, Muhammad sudah membersiapkan 11 ribu poun untuk pernikahannya nanti. Oh Syaima.

Lengkap sudah. Kejadian itu sudah menjelaskan. Akhlak yang berbuah dari aqidah dan ibadah. Dia sangat betul-betul menjaga. Tak pernah sekali pun upload foto dirinya sendiri. Aib katanya. Lengkap sudah aku terbius. Kecantikannya tidak hanya pada rupanya, namun juga akhlaknya.

Adakah yang lebih indah di bandingkan menatap wajah nya?

veil

Senyum kita pada saudara kita adalah sedekah. Tersenyum, percaya atau tidak, menambah kecantikan. Orang yang menebar senyum itu menebar energy positif. Seperti sabda Nabi, senyum mu pada saudara mu adalah sedekah.

Akhlak yang indah adalah pesona bagi setiap pribadi. Meski itu hal-hal yang sepele, seperti menebar salam dan tersenyum.

Bagiku, akhlak adalah cerminan aqidah dan ibadah seseorang. Seperti cerita Syaima di atas. Akhlak nya menjaga izzah dengan tidak mengupload foto wajah di medsos merupakan buah dari keyakinan nya atas perintah Allah, dan buah dari ibadah, muroqobah(kedekatan) nya dengan Allah.

Seberapa dekat kita dengan Al Quran pun menjadi parameter akhlak. Sebagian besar kawan-kawan mesir disini sudah rampung  menghafal  Al Quran 30 juz, pun dengan Syaima. Al Qur’an, menambah cahaya di wajahnya. Mungkin sebab itulah mengapa wajahnya begitu indah.

Ada lagi kawan ku yang lain. Zahra namanya. Berasal dari Rusia, namun lahir dan di besarkan di Cairo. Ia pun sama, 30 Juz telah di hafal. Dan wajahnya, jangan kau tanya. Rupanya cantik, dengan mata sipit khas nya. Indah seindah akhlaknya.

Entahlah, melihat mereka-mereka itu, seperti terpecut untuk lebih baik lagi dari hari ke hari. Senyum mereka seakan mengajak ku untuk kembali membuka Al Quran itu dan menyelesaikannya. Senyum mereka seakan mengajak ku untuk merasakan Al Azhar ini sebagai sebuah lumbung ilmu yang harus terus di gali. Akhlak mereka telah menjadi cermin yang memantulkan keindahan, membius jantung kepongahan hati- hati yang keras.

Adakah yang lebih indah di bandingkan dengan menatap wajahnya? 🙂

Mutsallas, Cairo, 14 November 2014

*hari ini, tepat sebulan disini.

Advertisements

Relatif

albert-einstein

 

 

Hidup bagiku adalah sebuah relativitas. Acuan apa yang kita gunakan, dan dengan kaca mata apa kita menilai. Bagus atau jelek itu relatif. Pintar atau bodoh juga relatif. Lama atau sebentar itu pun relatif. Pun sifat -sifat lainnya juga relatif, tergantung dengan apa kita mengukurnya.

Dia itu cantik ya..dia itu kaya sekali loh…Wah mewah sekali…dasar bodoh….gantengnya anak itu…lama sekali dia pergi…

kalimat diatas itu relatif bukan? bagiku cantik, bagi mu belum tentu. Kita bebas berkata apapun, karena itu relatif. Kita yang tahu acuannya.

Menurut mu apakah satu jam itu lama? atau sebentar?

tentu jawaban setiap orang berbeda-beda. Pasti berbeda jawaban antara seorang pemalas yang kerjannya hanya tidur dan ongang-ongkang kaki menjadi parasit dirumah dengan jawaban dari seorang pekerja keras, yang baginya satu detik saja sangat berarti.

ya, waktu adalah relatif.

Waktu satu jam menjadi sangat lama bagi seorang yang sedang ‘menunggu’, namun sangat cepat bagi seorang yang sedang ‘ditunggu’. Menurutku, relativitas adalah tentang cara pandang kita. Mind Set.

Apa yang tertanam dalam fikiran ini tentang waktu 4 tahun?

Bagaimana menanamkan dalam mind set ini, bahwa waktu 4 tahun adalah sangat sangaat sebentar?

4 tahun, ditambah 2 tahun dalam menuntut ilmu itu haruslah terasa sangat ringan dibandingkan kiprah kedepan seumur hidup. Anggap saja umur kita tersisa 50 tahun lagi. Enam dari Lima puluh tahun. Sebentar bukan?  Ilmu yang akan di dapat itu akan digunakan seumur hidup. Maka, wahai Tuhanku yang Maha Segalanya,

Ringankanlah kaki kami untuk pergi. Lapangkanlah hati kami untuk bersabar.

Lama atau sebentar memang itu relatif.. tapi rasa rindu yang datang nanti sepertinya niscaya~

Sukabumi, 9 Oktober 2014

H-3 sebelum berangkat..

 

 

 

Catatan Pernikahan (Mae)

mae 2

sayang mae :’)

 

 

H E B O H! …Semua jengah ketika berita itu tersebar kurang dari sepersekian detik. Bagai salju yang bercokol di gurun pasir, semua mata terkesiap, memandang keagungannya. Kamu mae, tadi malam sudah menjadi salju itu diantara kita, khusus nya angkatan 16 ini ^__^. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa ramai, kau langsung menembus batas, breaking the limits!

 

Sebelumnya, izinkan aku mengutip kata-kata Setia Furqon Kholid, sang motivator  muda:

Jodoh itu, jangan tergesa-gesa takut malah nelangsa

Jangan bersantai ria takut malah terlupa

Jodoh itu ibarat sebuah momentum

saat persiapan bertemu dengan peluang

Ada yang sudah siap, namun belum bertemu peluang

Ada yang diuji dengan banyak peluang, namun belum siap

ini juga belum jodoh artinya

mau dimudahkan jodoh?

percepat kesiapan, perbanyak peluang.”

Jodoh itu, ibarat momentum saat persiapan bertemu dengan peluang. Kau telah membuktikannya mae!. Siapapun diantara kita sangat tahu siapa kau. Seorang yang keibuan (walau terkadang menyebalkan ._.), penyayang, penyabar, dewasa, pintar masak, ahli syariah, mahasiswi LIPIA, yang sangat patuh pada Tuhannya.

Benarlah AlQuran berbicara: orang yang baik untuk yang baik pula..high class for high class. Jodoh yang se kufu, sepadan, telah Allah hadirkan untuk mu, saat kau memang sudah siap. Aku sendiri tidak mengenal siapa itu ka Lukman yang akan menjadi suami mu nanti :3..tapi orang-orang bilang, ia hafizh al qur’an, sholih..masyaAllah haru menyeruak ke relung jiwa hingga semalaman aku terus teringat kamu, mae :”)…Teringat dulu..ah, banyak lah momen di villa ciremai kita ituu…dan kini, kau siap di sunting, di peristri oleh lelaki yang sholih..betapa sangat bahagia 🙂

Unik. Saat menginjakan kaki ini pertama kali di bumi husnul khotimah, cara pandang ku dalam hidup benar-benar berubah 180 derajat. Dari berbagai aspek, salah satunya cara pandang tentang pernikahan. Diluar sana(diluar HK), misal di lingkungan ku, unj, hampir tidak ada yang menikah muda..tabu rasanya atau barangkali tidak lazim….seolah pernikahan itu adalah penghujung waktu setelah bersusah payah menuntut ilmu. Nikah minimal harus lulus S1, atau minimal sudah bekerja untuk pria. Pemikiran yang wajar dan memang lazim dikalangan khalayak umum. Tetapi ketika aku memasuki dunia hk, tradisi itu di tepis. Tidak sedikit alumni yang menikah, sambil tetap kuliah. Menikah menjadi proses yang di pupuk sejak dini. Menikah yang memang membawa berkah. Seperti zaman sahabat nabi, yang dinikahkan ketika sudah baligh. Usamah bin Zaid, menjadi panglima di usia 18 tahun setelah menikah dengan Fathimah Binti Qois di usia 16 tahun, atau tokoh-tokoh lain yang sukses justru setelah ia menikah. Jadi, menikah itu bukan akhir, tetapi juga proses.

‘Ala kulli hal, dua-duanya tidak masalah. Asalkan pertanyaannya, ketika memang sudah siap dan ada peluang, mengapa harus ditunda? Dan kalau memang belum siap, mengapa harus bermain-main dengan cinta? Menikah atau tidak. itu saja, tidak ada itu pacaran, tidak ada HTS. Inilah susahnya. Ketika kebutuhan biologis sudah memberi sinyal, namun belum ada kesiapan secara materi atau mental untuk menikah. Inilah ujiannya bagi para pemuda. Ketika hati sedang bersemi dan berbunga-bunga nya, namun agama melarang karena belum halal. Ini lah sulitnya ‘menjaga hati’.  Apalagi bagi wanita yang kerap kali mudah terhanyut oleh polesan manis kata-kata janji dari pria. Wanita itu butuh kepastian bukan janji. Karena wanita, hanya bisa menunggu. Maka itu, selagi masih muda, sibukan diri dengan hal-hal positif, agar kita tidak terperosok dalam lubang zina.

Begitu kira-kira pelajaran fiqih yang kita pelajari tentang hukum menikah. Wajib, apabila sudah siap dan ada peluang. Sunnah ketika sudah siap belum ada peluang, dan haram ketika belum siap dan belum ada peluang. Dan kita sendiri yang paling tahu, dimana posisi kita saat ini. Nah, kalau sudah siap, silahkan! hehe :3

ijab-kabul

Ijab Qobul

Menikah. menyebut kata itu, hati bergetar sendiri. Hal yang sangat sakral dan mulia, dimana malaikat berkumpul menaungi jabatan tangan dari 2 pria: Ijab dan Qobul. Dua kata yang sakral. karena Allah, dan para mailkat dia arsy sana memuji, memberkati janji dua pasangan yang  diikat oleh ikatan yang suci: pernikahan. Bukan sebatas memuaskan hawa nafsu, tetapi lebih besar dari itu: Menyatukan dua jiwa untuk bersinergi dalam ketaatan pada Allah, bersinergi dalam berdakwah menyebarkan Islam ke seluruh penjuru, bersinergi dalam melahirkan generasi-generasi penerus yang nantinya dipamerkan oleh nabi Muhammad di akhirat. Seperti sabda beliau:

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) dihadapan umat-umat lain”

Menikah. Lagi-lagi aku tersenyum membacanya. Sedewasa itu ternyata teman-teman ku. Aku jadi malu, karena masih jauh pikiran ini dari kata menikah. Padahal memang sebagai perempuan, sudah harus di persiapkan sedini mungkin. Bukan berati aku menggembar gemborkan nikah muda ya 😀 ..bagiku, menikah itu harus memiliki ‘values’ dan ‘misi’. Bukan ‘kapan’ atau ‘dengan siapa’ nya kita menikah, tapi ‘untuk apa’ dan ‘dengan cara apa’ kita menikah nantinya 🙂

And MAE, you are my best! semoga kami-kami yang jomblo ini cepat menyusul!! haha

tesa mae

Tesa and MAE 🙂

Catat dengan Jelas Cita-Cita Itu!

cita2

Allah, Peluklah mimpi-mimpi kami!

Mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari. Seperti kata ka Assad di buku best seller-nya, “Dream,  Do, Deliver”.

Aku menata kembali rencana beberapa tahun kedepan. ‘Is it too late?’ fikirku. Tapi apa boleh buat, ini jalan takdir yang musti di tempuh. Jalani apa yang kau sukai, seperti kata bu mia, “karena cinta tidak pernah menyesal”.

“Kenapa kamu pilih itu ?” pertanyaannya sore hari itu menggelitik kemantapan ku. Khodijah, teman seperjuangan di pondok dulu, teman satu daerah, yang sekarang kuliah di UNPAS Teknologi Pangan.

“Hidup kan memang pilihan” Kata ku menggantung.

“Memang apa rencana kamu kedepan ?” Katanya lagi.

“Aku mau jadi dosen dij..Gimana aku bisa S2 kalau gak suka dengan yang kupelajari sekarang?” Kataku mengalir begitu saja.

Memang itu yang ada di fikiranku. Satu sisi aku memang menaruh perhatian pada pelajaran syar’i, sisi lain aku heran sekaligus gemes, Mengapa di birokrasi keagamaan seperti Kementrian Agama justru tingkat korupsinya tinggi ?, Dan mengapa di institusi keislaman, lumbungnya para intelektual islam seperti UIN, justru terlahir tokoh-tokoh liberalis, syiah dan dedengkotnya ?

Obrolan kami terus berlanjut, membahas rencana s2, apa itu beasiswa LPDP, membahas toefl, membahas apa saja tentang masa depan. Membahas itu semua memang mengasyikan, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Ya, jawabannya ada pada kita sendiri,. Apa yang kita fikirkan, apa yang kita rencanakan, dan apa yang ita lakukan, itulah yang terjadi esok hari. Tentunya di luar kuasa faktor X, dari Allah yang Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu.

Jadi ingat perkataan Kak Doni, freelance bimbel NF yang juga seorang dokter gigi, beliau membahas teori sebab akibat. Ketika kita berusaha untuk menggapai impian hingga 30%, hasilnya pun akan 30%. Seimbang, atas apa yang dilaku dan didapat. “Lalu bagaimana jika ada anak yang sudah usaha mati2an buat masuk PTN, tapi ternyata belum lolos juga?” tanya salah satu diantara kami waktu di kelas. Lalu Ka Doni bilang, itulah salah satu cara Nya. Biasanya orang yang sukses di kemudian hari adalah orang yang seperti itu.

Masih belum mengerti arah pembicaraan  Kak Doni, akhirnya beliau menjelaskan. Ketika impian kita belum terkabul, mungkin Allah menggantinya dengan berkah yang lain.Misal: kemudahan mencari kerja, dimudahkan jodoh, dan lain-lain. Ya, B-E-R-K-A-H! Itu dia kata kuncinya. Berkah itu adalah kebaikan yang membawa kebaikan. Artinya, kebaikan yang tak habis-habisnya.

Atau juga catatan Kak Assad di buku Note From Qatar, kata beliau, Allah menjawab doa dengan tiga cara. Petama, langsung dikabulkan, kedua di tunda, ketiga, diganti dengan yang lain. And He always knows the best for us.

Mencatat impian sudah kulakukan semenjak di pondok dulu. Tentunya ada yang sudah tercapai ada yang belum. Tapi ada satu cita-cita yang kutulis iseng namun menjadi nyata. Aku sendiri malu dan tidak percaya itu bisa tercapai, karena tak pernah ku targetkan untuk itu. Yaitu ketika 2013 menjadi murobbiyah dan santri teladan. Ah, itu murni kehendak Allah. Masih banyak santri-santri lain yang bisa dijadikan teladan. Tapi sekali lagi, itu takdir. Iya kan? Who knows? …Siapa yang tahu. Begitupun sebaliknya, ketika ditolak SBMPTN padahal grade di bimbel menyatakan lolos. Jika Allah berkata tidak, lalu bagaimana?

Itulah sebabnya mungkin, Asma Nadia menulis quote cantik di bukunya, “Kita tidak bisa memilih takdir, namun kita bisa memilih jalan dalam menjalani takdir itu”. It’s absolutely right!. So, mumpung masih muda, mari kita semangat menunut ilmu! muda berkarya, tua kaya raya!!haha aamiin.

Target 10 tahun kedepan ku tulis jelas supaya ku ingat, dan diingatkan oleh pembaca blog ini..hehe..

4 Tahun kedepan menempuh S1 di ushulussin tafsir Al Azhar cairo, sambil mendalami bahasa arab dan TOEFL. Setelah lulus, lanjut s2, lewat beasiswa LPDP, atau YTB. Opsi pertama, lanjut s2 di al azhar lagi, opsi kedua, lanjur di Turki, atau di Indonesia. Target lulus s2 tahun 2020. Setelah itu mencari peluang usaha, atau menjadi dosen…mm.. Kapan nikah nya? hehe ini sensitif banget ._. .. kalau nikah saya tidak tuliskan. Yang jelas ketika jodoh datang, saatnya tepat dan sudah siap.

Dan misi terbesar ku adalah masuk menjadi bagian dari birokrasi kemenag atau menjadi dosen di UIN, dengan membawa panji tarbiyah.haha aamiin.

dije n me

Sukses terus yaa calon ahli pangan dan ahli tafsir 😀 *Dije n Me*

Perbedaan S1, S2, dan S3

Catatanku

Mahasiswa saya pernah bertanya, apa sebenarnya perbedaan antara S1 dan S2. Jika ditambah dengan perbedaan S2 dan S3, maka pertanyaan lengkapnya adalah seperti judul di atas: Apa perbedaan S1, S2, dan S3? Pertanyaan seperti ini wajar muncul sebab setelah melihat Tugas Akhir (skripsi) mahasiswa S1, tesis mahasiswa S2, dan disertasi mahasiswa S3 kok tidak terlihat perbedaan yang signifikan? Tesis S2 dilihat oleh mahasiswa saya sama seperti pekerjaan TA mahasiswa S1, bahkan mungkin lebih rendah kualitasnya daripada TA mahasiswa S1. Mungkin juga disertasi S3 kualitasnya sama seperti tesis S2, atau bahkan lebih rendah lagi.

Di ITB saya sering menguji tesis S1 dan S2, kalau menguji mahasiswa S3 baru sebatas ujian kualifikasi yaitu menguji proposal mahasiswa S3 tahun pertama. Pernah ketika menguji tesis mahasiswa S2 saya merasa heran, tesis semacam ini kok bisa maju sidang, kualitasnya jauh di bawah TA mahasiswa S1 yang saya bimbing. Ah, mungkin dosen pembimbingnya asal menerima topik…

View original post 412 more words

it’s about Gen Alay

gen alay juga

Nobar with fams PTIK at gedung sergur

 

 

Pertama kali aku menapakkan kaki ku disana. Tepatnya agustus tahun 2013.

Bukan, aku bukan ingin mengabadikannya sebagai kenangan. Aku hanya ingin berbagi kisah kepada kalian. Bahwa ukhuwah itu memang manis. Persahabatan itu memang dicari dan dirindu.

Agustus itu, subuh dini hari, aku memasuki gerbang dengan terburu buru bahkan terbirit birit. Untuk hadir dalam agenda perkenalan kampus pertama kali. Masa Pengenalan Akademik namanya. 🙂

Hari demi hari, perkenalan demi perkenalan dilalui hingga kami resmi menjadi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta sampai lulus nanti insyaAllah. Kau tahu kawan? di sini aku bertemu dengan kawan-kawan imut sekali :3. Aku pun punya gelar untuk mereka masing-masing. Ada Nia bawel, Nasiha legowo, Puri keibuan, El imut, Betha anggun, Niar kalem dan Tya cerewet. Tapi itu dulu. Itu gelar dulu saya sematkan kepada mereka ketika masa-masa MPA. Sekarang gelar mereka–dan katanya aku juga– sama : Alay.

Entahlah itu gelar dari mana, yang jelas kita hepi~

Dalam persahabatan, percekcokan dan perselisihan itu niscaya. Kami ber delapan punya karakter yang berbeda. Ah lucunya kami :’).

tak lupa, kita punya satu kakak. Yang letaknya disini–dihati.

Dia datang merengkuh kami pertama kali, saat kami kebingungan menjadi mahasiswa baru. Kami melingkar untuk pertama kali di depan rektorat, di bawah pohon kecil. Lalu kami, saling tahu nama. Ka Nadya nama nya. Saat itu, aku bergumam dalam hati: terimakasih Allah, aku bertemu dengan kaka berjilbab. semoga dia membersamai ku kedepannya, di jakarta ini. itu kata ku kala ini.

Dan memang dia selalu ada bersama kami. Ketika untuk pertama kalinya kami akan mendapat IP di semester pertama, aku ingat ketika melingkar, ka nadya selalu bertekad untuk dirinya dan juga kita, IP harus diatas 3,5! …

Banyak hal yang kami lihat dan kami serap dari dirinya. seorang organisator yang  juga akademis dan aktivis dakwah. Kombinasi yang sempurna, walaupun tidak ada mahasiswa bahkan manusia yang sempurna. Ka nadya, berhasil menjadi teladan bagi kami adik-adiknya yang polos ini. Semangatnya, Asa nya, seakan terpancar di setiap langkah nya. Aku tahu dan faham betul bagaimana sibuknya seorang Ka Nadya. Kesibukannya untuk sesama, dan prinsip nya bagaimana bisa memberi kebermanfaatan dengan sesama. Hadirnya ditunggu, dan ketiadaannya dirindu.

Aku banyak belajar, dan mengamati, bagaimana agar bisa menjadi orang yang peka dan bermanfaat. Jadi teringat kertas yang kita tulis bersama-sama di bebek monggo kemarin lalu. ‘harus peka’ , ‘jangan biasakan telat’. Kedua hal itu benar-benar tamparan bagi ku.

Lagi-lagi aku banyak belajar, dari ke-7 teman ku. Aku belajar arti rela berkorban dari seorang Nia. Belajar arti sabar dari seorang Niar, belajar arti persahabatan dan kedamaian dari Betha, belajar arti baik hari dari Nasiha, belajar arti tulus dari Elnova, belajar arti keibuan dari Puri. Mereka unik dan memenuhi satu ruang di hati ini. Benar-benar mencintai merka karena Allah :’)

Dan tentang Ka Nadya yang belum rampug kutulis. Karena sepertinya tak cukup kalau aku menuliskan disini. Karena setiap hari, kami melihat semangat yang terpancar dari matanya. Aku tidak berlebihan karena memang begitulah adanya. Tak ingin tertalu hiperbolis. Tapi tetap saja semua menyisa disini. Karena kami tahu, Ka Nadya uga akan lulus. Dan kami akan menjadi ‘kakak’ juga.

Kebaikan, semangat, motivasi,pengalaman yang kami dapat darinya, tentu akan kami ceritakan ulang kepada adik-adik kami. Begitulah seterusnya.Seterusnya. Dalam hadits kita tahu, apabila seorang muslim menunjukan jalan kebaikan kepada orang lain, maka pahala orang-orang yang mengikuti kebaikannya pun akan megalir kepada orang yang memberi teladan tersebut. Bayangkan! Betapa banyak pahala yang akan mengalir kepada kita, jika kita mengajarkan kebaikan kepada adik kelas, dan mereka mengajarkan lagi kepada yang lain, sampai seterusnya. Dan lagi-lagi kami dapatkan itu di dalam lingkaran kecil kami. Lingkaran yang didalamnya random sekali. Segala hal di bahas. Tak jarang air mata kami keluar ketika sesi curhat atupun muhasabah. Lagi-lagi Ka Nadya ada membersamai lingkaran kecil kami yang kini bermetamorfosis menjadi sebuah grup halaqoh :).

Tapi kau tahu kawan? ada satu hal yang membuat ku khawatir akhir-akhir ini. Hal yang mengancamku akan kehilangan canda tawa di gedung L, Elektro UNJ. Hal yang mengahantuiku, bahwa perpisahan itu niscaya. Hal yang menyadarkan ku bahwa semester dua ini, #3,1 ini, adalah IP terakhir ku. Hal yang menyadarkan ku, bahwa nanti-anati aku tidak lagi datang ke kelas, ke gedung L dengan tergesa-gesa karena telat, tidak lagi berheboh ria dengan ketujuh teman alay ku, tidak lagi mendengar ceramah dosen di kelas. Hal yang menyadarkan ku, bahwa kedepannya aku tak alagi bergabung dalam ranah dakwah di fakultas teknik, hal yang menyadarkan ku bahwa aku tidak bisa lulus bersama-sama dengan mereka…(sampai pada bait ini, air mata ku jatuh).

Hidup itu memang pilihan. statement klasik namun akhir-akhir ini terasa dalam. Karena aku harus benar-benar memilih. Ketika senin kemarin pengumuman itu keluar. Aku kembali menguatkan azzam dan memperbaharui niat, untuk belajar agama, mendalami ilmu tafsir di Al azhar, seperti cita-cita ku dulu. Akhirnya aku memutukan untuk memilih. Pilihan ini tidak serta merta mulus. Aku sadar, banyak resiko, mesir yang tidak stabil akhir-akhir ini pun jadi kendala. Tapi kembali ke niat semula. Tafaqquh fid din. Menuntut ilmu setinggi mungkin kalau bisa sampai s3. aamiin. Kita berkumpul lagi setelah sukses nanti yaa {}

Kelak tiba masa, dimana kita terpisah jarak namun hati terasa dekat

kelak tiba masa, aku melihat canda tawa kalian, hanya melaui layar komputer ku

Kelak tiba masa, jepretan kamera itu, tanpa aku di dalamnya.

Kelak tiba masa, aku melihat kalian bertoga hijau dengan gelar S.Pd :’)

masa itu pasti tiba, dan jangan lupakan aku ya. love u all {} G.E.N ALAY

Generasi Attractive, Loyal And,…apa aku lupa -,-

 

 

 

kanad for blog

Ka Nadya yang selalu semangat!

gen alay

Mereka ini lah calon programmer, pengusaha, dosen, dan istri solihah masa depan 🙂

 

Beliau: Wanita Berhati Samudera

siang  ini, ingin aku menuliskan mu, dalam bait-bait sederhana.

 

Tidung Island

Selalu kutangkap energi di setiap langkahmu, dan seulas senyum bagi hari-hari ku. #GuruKehidupan #TidungIsland

 

 

Untuk Wanita Berhati Samudera

:Guru kehidupanku~

 

Kapan tepatnya aku mengenal beliau, aku pun lupa. yang pasti itu belum lama. Baru kemarin. Ya, baru kemarin aku di izinkan bergabung bersama dalam lingkaran ilmu itu. Dan disitulah aku bertemu dengan beliau: seorang wanita bermata senja.

Beliau menjabat tangan ku untuk pertama kalinya hari itu. Erat sekali. Sebagai salam perkenalan. Menuju dunia senjanya yang penuh dengan bunga.

Mungkin Allah yang mengantarkan ku lebih dekat dengan nya. Tuhan mengenalkan ku akan beliau dengan caraNya. Baru ku tahu sejak itu, betapa ‘maha’ nya beliau. Seorang wanita sekaligus ibu bagi ummat. Wanita cerdas, lulusan UI dan Curtin University, seorang ibu bagi 3 malaikat kecilnya, juga seorang istri dari suami yang sholih.

Seorang wanita gigih, penyabar, dan berhati samudera. Tak berlebihan sepertinya aku menyebutnya seperti itu. Karena mataku hanya menangkap cinta dari setiap langkahnya. Sorot matanya menjelaskan ku akan pengalaman hidupnya yang dalam. Perkataannya menyejukan bagi sesiapa yang mendengarnya….ah,..aku malu pada diri sendiri..

‘Mensyukuri setiap detik yang ada’…moto hidup beliau yang lahir dari manis pahit hidupnya, lahir dari kesabarannya mengasuh anak sulungnya, si cantik –anak yang Allah anugerahkan kekurangan untuk memuliakannya–. Bahkan masih ku ingat cerita beliau pasca lahiran anak gadisnya itu. Tangis beliau pecah di hadapan suaminya “Bagaimana ini..anak kita tidak seperti anak lainya!”..

suaminya menepis segala aral, dan berkata dengan sabarnya “sudah umi..kita serahkan saja kepada Allah. ini amanah..”

Atau cerita beliau tentang suaminya, yang berinfaq tanpa khawatir harta berkurang.

“Abi..bagaimana uang untuk sehari-hari?atau uang untuk tabungan kita?” tanya wanita itu pada suaminya suatu hari.

“udah kasih aja selama masih ada yang lebih membutuhkan dari pada kita.. nothing to lose ..Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik..”

Jawaban yang mencerminkan ketawakkalan dan kebesaran jiwa. Dan lagi-lagi suaminya yang menepis segala ke khawatiran wanita itu. Mereka ditakdirkan bersama walaupun harus terpaut oleh jarak–suaminya tinggal di Australi untuk tugas dakwahnya–

Yang ku mengerti hingga kini, Allah telah memperkenalkan ku kepada keluarga itu. Keluarga yang sedang berjalan di jalan kupu-kupu. Keluarga yang sedang di gandrungi oleh para malaikat atas kesabarannya.

Ah lagi-lagi aku malu pada diri sendiri. Diri yang lebih sering mengeluh dari pada bersyukur.

Beliau memberi teladan, menyinari nya kepada hati-hati kami, tanpa terkesan menggurui. Justru diam nya memberikan seribu makna. Aku tahu, jam terbang beliau sangat tinggi, yang setiap menitnya terjadwal. Selain sebagai dosen, beliau pun seorang aktivis dakwah, aktif dalam organisasi partai dakwah. Memang beliau seorang maha, yang membuatku takjub akan peringainya. Tak terlihat kesombongan pada nya, bahkan di sela waktu padatnya, masih ada waktu yang ia sisakan untuk kami kami ini. Beliau masih mau mengajar kan ilmunya kepada anak kemarin sore ini.

Semoga Allah memuliakan beliau di tempat Nya yang paling tinggi.

Dan  jika kau tak tahu seberapa berartinya waktu 1 jam, tanyakannlah pada guru honorer.

Jika kau tak tahu seberapa berartinya waktu 1 menit, tanyakannlah pada penumpang krl.

Jika kau tak tahu seberapa berartinya waktu 1 detik, tanyakanlah pada atlet maraton.

Dan jika kau tak tahu seberapa berartinya kehidupan, jangan kau bertanya.

Cukup kau berjumpa sapa dengan beliau, wanita bermata senja berhati samudera, maka kau akan mengerti 🙂

*Ku dedikasikan tulisan ini untuk guruku, ditulis di pojok kamar, kota menggiggil–sukabumi–.